Bencana Datang, Ormas Menghilang: Ketika Seragam Ramai di Jalanan, Tapi Sunyi di Lokasi Bencana

108

Oleh : Laksma TNI (Purn) Jaya Darmawan, M.Tr.Opsla.

Rakyat Bertanya: Di Mana Pasukan Ormas Saat Bangsa Terluka..?

Merangintoday.com, MERANGIN — Ketika bencana alam melanda hampir seluruh wilayah Indonesia—terutama kawasan Barat seperti Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, dan sekitarnya—rakyat menyaksikan satu fakta yang sulit dibantah: *yang hadir secara nyata di garis depan hanyalah TNI dan sebagian Polri*.

Pertanyaan besar pun muncul di tengah masyarakat :

*Ke mana perginya ormas-ormas yang selama ini tampil bak pasukan tempur..?*
Ke mana barisan yang biasa berparade dengan *seragam mirip militer, atribut lengkap, pangkat, tongkat komando, bahkan gaya seolah memiliki struktur komando perang..?*

Mengapa ketika *negara dan rakyat benar-benar membutuhkan tenaga, nyawa, dan pengabdian*, mereka justru *diam seribu bahasa..?*

*ORMAS YANG SELALU RAMAI DI MEDIA, NAMUN SUNYI SAAT BENCANA*

Nama-nama ini bukan asing bagi publik karena *kerap muncul di ruang publik, jalanan, dan media*, sering kali dengan citra keras, demonstratif, dan intimidatif :

• *Pemuda Pancasila*

• *GRIB Jaya*

• *Berbagai ormas sayap partai politik*

• *Ormas yang mengatasnamakan NU, Banser, Ansor* (dalam konteks struktur non-resmi dan kelompok yang sering tampil atributif di jalanan).

• *Ormas yang didirikan oleh purnawirawan TNI dan Polri*

• *Kelompok-kelompok “relawan” musiman jelang Pemilu dan Pilkada*

Namun ironisnya, *seragam-seragam itu nyaris tak terlihat di tenda pengungsian, dapur umum, atau medan evakuasi*.
Tidak ada barisan komando.
Tidak ada apel kemanusiaan.
Tidak ada mobilisasi nasional yang terkoordinasi.

*FAKTA YANG TIDAK TERBANTAH*

Yang bekerja nyata di lapangan adalah :

• Prajurit *TNI AD, AL, AU*

• Sebagian *Polri*

• Relawan kemanusiaan independen

• Warga sipil yang saling menolong tanpa atribut dan pangkat

Sementara itu, *ormas-ormas berseragam justru lenyap dari radar kemanusiaan nasional*.

*ORMAS: ANTARA FUNGSI ATAU HANYA PENUNGGANG KESEMPATAN*

Kritik publik semakin tajam ketika masyarakat melihat pola yang berulang :

• Muncul saat *Pemilu dan Pilkada*

• Aktif saat *berebut lahan parkir*

• Hadir saat *menjaga gudang, perusahaan, dan kepentingan oligarki*

• Siaga saat *pesta, konser, atau acara elite*

• Ramai saat *demonstrasi bayaran*

• Namun *hilang saat bencana, penderitaan, dan jeritan rakyat*

Maka muncullah istilah yang kini ramai diucapkan rakyat :

*“Tentara plastik”*
Berseragam, berisik, tapi rapuh dan tak berguna saat krisis nyata.

*TIDAK ADA MANFAAT STRATEGIS BAGI NEGARA*

Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, keberadaan ormas-ormas seperti ini patut dievaluasi secara serius karena :

1. *Tidak memberi kontribusi nyata saat krisis nasional*

2. *Lebih sering menimbulkan keresahan sosial*

3. *Menjadi alat politik praktis*

4. *Menyempitkan ruang sipil dan hukum*

5. *Membajak simbol nasionalisme untuk kepentingan kelompok*

Negara ini *tidak kekurangan seragam*,
tetapi *kekurangan pengabdian tulus*.

*PELAJARAN BESAR BAGI RAKYAT INDONESIA*

Bencana ini memberi pelajaran pahit namun penting :

*Jangan beri ruang, legitimasi, dan panggung kepada ormas-ormas oportunis saat negara dalam keadaan aman*.

Karena ketika badai datang,
ketika tanah bergeser,
ketika air menelan rumah,

“mereka tidak ada”

Yang berdiri di depan hanyalah :

• Negara

• Prajurit

• Rakyat yang saling menguatkan

“PENUTUP”

Indonesia membutuhkan *solidaritas nyata, bukan seragam palsu*.
Membutuhkan *pengabdian, bukan panggung politik*.
Membutuhkan *kerja kemanusiaan, bukan intimidasi jalanan*.

Jika sebuah organisasi *tidak hadir saat rakyat menderita*,
maka patut dipertanyakan:
*untuk siapa dan untuk apa mereka ada..?*

LEAVE A REPLY